Salam

Assalamu'alaykum... :)

Kamis, 19 April 2012

Cerpen dan Unsur Intrinsiknya


Luka Oden
Wiwin pArlina


“Satu, dua, tiga.”
Mulut kecil Oden menghitung kepingan logam yang perlahan dimasukannya ke dalam celengan tanah miliknya.
“Tiga ratus!” Oden sumringah, dielusnya sayang celengannya. Kemudian dengan perlahan dimasukannya ke dalam kotak berkas yang dipungutnya di tempat sampah, hati-hati seklai seperti membelai bayi.
Saat Oden menggoyangkan kotak bekas itu, maka suara keping logam yang beradu menjadi sumber suara di dalam gubuk itu, dan bagi Oden suara-suara itu merupakan suara paling indah melebihi suara penyanyi dangdut yang dulu pernah didengarnya.
Detik itu menjadi kegembiraan Oden. Namun detik berikutnya kesenangan itu terganggu, bocah itu merasa ada sesuatu yang jatuh dikepalanya. Diusapnya basah, ini artinya air, hujan!
Oden segera mengambil beberapa kaleng bekas cat yang biasa disusun semacam pyramid, benar-benar kaleng multidungsi!
Dengan cetakan diletakannya kaleng itu pada titik-titik rawan gubuknya. Setelah selesai, Oden duduk diatas tikar tidurnya sambil memperhatikan air yang jatuh ke kaleng, bunyi jatuhnya nyaring mengganggu sekali, mala mini sepertnya ia tidak bisa tidur.
Hujan, sebenarnya Oden benci hujan. Keadaani ni akan membuatnya kelaparan sedikit lebih lama, karena bibinya pasti tidak akan sudi susah-susah menyambanginya saat hujan. Sejak awal Oden sudah diperlakukan berbeda, gubuk yang ditempatinya sengaja dibangun untuk mengatur jarak dengan keluarganya. Masih diingatnya dengan sangat jelas suara-suara yang mengingingkannya dirinya menjauh.
“Anak haram membawa sial, empat puluh rumah dari sini!”
“Anak jadah pembawa petaka”
“Anak jadah pembawa onar”
“Anak jadah…”
“Anak haram..”
“Dosa…”
“Petaka…”
“Sial…”
Entah apalagi yang mereka katakan, karena semakin Oden melangkah pergi, suara-suara itu kian sayup. Bila disuruh memilih, Oden lebih baik dipukul ibunya dan ditendang ayahnya. Setidaknya, artinya bila itu terjadi ia mempunyai orang tua. Oden berjanji tidak seperti malin kundang yang durhakan pada ibunya. Bocah berusia 6 tahun itu mempunyai seribu janji pada Tuhan apabila ia bertemu dengan ibunya. Tapi seribu sayang, tak ada satupun kisah ibunya yang sesuai dengan telinga kecilnya.
Oden layaknya selebritis, terkenal di kalangan ibu-ibu penggosip, namun tak kalah tenar di warung-warung pinggri desa, banyak yang Oden dengar tentang ibunya, versi tentang sejarah kelahiranya pun beragam, kata orang-orang, ibunya itu orang gila yang bunting diperkosa orang mabuk, tapi beredar pula berita bahwa ibunya orang gila yang dijadikan bulan-bulanan oleh preman kampong. Bahkan, ada yang mengatakan laki-laki yang menggagahi ibunya masih anggota keluarga.
Benar-benar beban mental bagi pikiran sederhana anak seusia Oden. Dibesarkan dalam lingkungan di mana orang-orang selalu mencibirnya,, membuat Oden hidup dalam ruang imajinasinya sendiri, benar-benar sendiri. Ini lebih menyakitkan dibanding sakit dan cacatnya tubuh, lebih menyakitkan disbanding perlakuan kasar pada fisik.
Anak itu jijik melihat ibu-ibu penggosip, mereka seperti belatung-belatung yang berpesta di atas bangkai tikus, kotor dan menjijikan!
Hanya satu kabar bagus yang menyentuh gendang telinganya, merembes ke pembuluh darah dekat hati, hangat, meningkatkan adrenalin. Angin segar, ini benar-benar angin segar bagi Oden. Sekarang, ia tahu keberadaan ibunya. Yang sejak itu merindukan buaiannya, merindukan putting susunya.
Inilah impian Oden, Selagalas, tempat yang dianggap tujuan hidupnya, tempat yang dilihat sebagai suatu istana dalam imajinasinya, tujuan dari segala usahanya. Mengingat itu, oden sperti mendengar suara kepingan logam, yang beradu, syahdu dan benar-benar nikmat.
Bila uang dalam celengannya itu sudah cukup ia akan langsung pergi ke tempat impiannya itu, Selagalas.
Tiba-tiba Oden meringis, perutnya merasa melilit, sedangkan hujan di luar semakin deras, Oden tersenyum kecut, suara air yang jatuh ke dalam kaleng juga sudah tidak terlalu nyaring, rupanya kaleng-kaleng itu sudah penuh, air mulai merembes ke lantai tanah dan gubuk Oden becek.
Oden semakin merapatkan tubuhnya, tubuh kurus itu menggigil, Oden menekuk tubuhnya dan sedikit menekan perutnya yang kian sakit, perlahan Oden tertidur, ia mulai lupa akan hujan, lupa, lupa…
Dalam tidurnya Oden tersenyum, sneyum hangat layaknya anak dalam buaian ibu. Ia seperti mendengar nyanyian bidadari, lembut begitu lembut. Ah, … Oden, mimpi. Memang terkadang mimpi itu indah. Tapi, bersiaplah untuk terjaga….
SELESAI



Unsur-Unsur Intrinsik:
Meupakan unsur-unsur yang terdapat di dalam karya sastra.
Tema                                     : Kerasnya Kehidupan
Alur                                      : Maju
Tokoh                                   : Oden, Bibi, Keluarga, Tetangga.
Perwatakan Tokoh                  : Oden :  tegar, pekerja keras, pemimpi. (Protagonis)
                                               Bibi, keluarga, tetangga : Tidak bijaksana, tidak baik. (Antagonis)
Latar                                      : Tempat : Gubuk, pedesaan.
                                               Waktu : Malam hari ketika hujan
                                                Suasana : Dingin, meresahkan, mencekam, memprihatinkan.
Sudut Pandang                        : Orang ketiga
Gaya Bahasa                           : Baku
Amanat                                  :
1.         Seburuk apapun keadaan kita, tetaplah bermimpi, tetaplah berusaha!
2.         Bagaimanapun keadaan orang tua kita, tetaplah berbakti kepada mereka. Karena bagaimanapun juga, mereka tetap orang tua kita.
3.         Tetaplah tegar, tetaplah menjadi positif walaupun tidak ada orang yang mendukungmu!
4.          Jangan berbicara sembarangan, karena bisa jadi apa yang kita bicarakan itu belum benar serta menyakiti perasaan orang lain.
5.          Apa yang anda lakukan sekarang akan berdampak pada kehidupan anak cucu anda nanti. Maka berbuat baiklah!
`                                              

1 komentar: